Menjadi “Tuli” — ABAIKAN!!!

Manusia dibentuk dari lingkungan sekitarnya, orang tua, sekolah, dan teman – teman terdekat. Masa depan kita lima tahun ke depan tergantung dari buku apa yang kita baca dan dengan siapa kita bergaul. Namun jika kita mau melihat kenyataan di sekitar kita, justru lingkungan sekitar kitalah yang seringkali tidak mendukung atau bahkan meremehkan impian dan cita – cita kita.
Saya jadi teringat masa – masa ketika kita masih berusia 3 – 5 tahun. Pada usia itu orang – orang terdekat disekitar kita selalu mengajarkan kita untuk bermimpilah setinggi langit. Begitu bersemangatnya karena kata – kata dukungan tersebut, dengan polos dan lantang kita mengatakan,


“Aku mau jadi Pilot!”


“Aku mau jadi dokter!”

Namun, hal seperti ini sudah tidak pernah terdengar lagi ketika kita sudah memasuki usia dewasa. Ironisnya, ketika kita menyatakan impian kita, maka jangan kaget jika orang-orang di sekitar kita, sahabat terdekat kita, atau bahkan keluarga kita sendiri akan berkata

“Jangan mimpi yang tinggi – tinggi, nanti kalau jatuh sakit… Kamu boleh bermimpi, tapi harus realistis!”

Pembaca yang budiman, jangan bersedih! Saya mengerti jika Anda pernah mengalami kejadian seperti itu, karena saya pun pernah mengalami apa yang Anda rasakan saat ini. Sebagai pembelajaran sesuatu dalam kehidupan yang keras ini, terkadang kita harus belajar untuk mendengar. Namun, dalam melalui setiap proses menuju impian saya, saya lebih memilih untuk menjadi ‘Tuli’. Saya memilih untuk tidak mendengarkan perkataan mereka, memakai kacamata kuda dan terus maju sampai mencapai garis Finish! Namun, sangat disayangkan saya melihat lebih banyak orang yang justru break down ketika orang-orang di sekitar mereka tidak lagi mendukung mereka. Dan lebih parahnya lagi, mereka mengecilkan impian dan cita – cita mereka sendiri

Michael Jordan pernah ditolak masuk team oleh pelatih basket SMU. Namun, pada akhirnya Michael Jordan telah terpilih sebagai pemain basket terbaik di dunia. Beliau justru berterima kasih kepada orang – orang yang pernah meragukan dan meremehkan impiannya, termasuk pelatih SMU yang dulu pernah menolaknya. Michael Jordan mengatakan bahwa mereka yang meremehkan Dia, sebenarnya telah melemparkan kayu ke dalam api. Semakin diremehkan, Michael Jordan semakin terpacu untuk membuktikan dirinya adalah pemain basket kelas dunia yang tidak terbantahkan

Kita perlu belajar dari seorang Michael Jordan. Ketika orang lain meremehkan impian Anda, maka tutuplah rapat-rapat kedua telinga Anda, jadilah ‘tuli’, dan lakukan yang terbaik demi meraih semua impian dan cita – cita Anda. Mereka boleh saja menertawakan Anda, akan tetapi tertawa di belakang jauh lebih nikmat=)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: